Rabu, 11 Januari 2012
Leader a.k.a. Pemimpin
Belum lama ini, saya juga sempat berdiskusi dengan seorang kolega, bahwa alasan utama (mungkin tidak pertama) bahwa seseorang keluar atau tidak merasa kerasan dengan tempat dimana ia berkarya saat ini adalah masalah kepemimpinan. kepemimpinan otomatis erat kaitannya dengan pimpinan, dan bagaimana ia berperilaku dan bertindak.
Saya rasa, memang tidak otomatis bahwa bawahan yang baik akan menjadi atasan yang baik pula. Masih banyak faktor X lain yang turut berperan serta mempengaruhi kinerja mereka. Banyak teori yang membahas mengenai bagaimana cara memimpin yang baik dan benar. Atau bagaimana mengelola bawahan secara baik dan benar. Tapi, seperti layaknya hubungan simbiosis mutualisme sebuah hubungan kerja, dalam hal ini bawahan juga memiliki peran penting dalam menunjang keberhasilan atasannya. Artinya, bawahan tidak dalam kondisi lumrah dan maklum bahwa ia harus diperlakukan dengan baik. Melainkan ia pun harus mampu dan mumpuni dalam memperlakukan atasan dengan baik. Hanya dengan cara inilah, hubungan simbiosis mutualisme dapat berjalan dengan selayaknya.
Mengelola atasan, menjadi topik yang sangat jarang sekali disinggung, mungkin karena pemimpin dianggap harus memiliki sifat dan sikap mengayomi bawahannya. Padahal, seorang atasan juga sama manusianya dengan bawahannya, sama-sama mampu merasakan kecewa dan sakita hati kalau ada bawahannya yang tidak dapat mengerti dan memahami apa yang menjadi keinginannya. Kemudian, topik ini akan kembali meluas kepada masalah komunikasi dan kerja sama dalam kelompok, dan sebagai macam lainnya lagi.
Namun, satu hal yang pasti adalah, menjadi seorang pemimpin mempunyai etika dan aturannya sendiri, pun begitu juga dengan menjadi seorang yang dipimpin. Jika masing-masing menyadari tugas dan fungsinya dengan baik, ditambah dengan adanya toleransi dan tenggang rasa, bukan tidak mungkin suasana harmonis dalam kelompok kerja dapat tercipta. Pada akhirnya akan berdampak pula peningkatan masing-masing kinerja, baik yang memimpin maupun yang dipimpin.
Perlu proses panjang dan tidak pernah berhenti untuk menemuka dinamika harmonis seperti yang saya maksud, dan itu bukan pekerjaan yang mudah. Akan tetapi, dengan tetap memiliki pemikiran yang positif, semua itu bukan tidak mungkin dpaat terwujud. Saya pun masih menjalani kedua posisi tersebut dan berusaha dengan baik mencoba memahami dan melaksanakan apa yang menjadi etika masing-masing posisi tersebut.
Selamat berjuang dan mencoba. Tetap semangat!
Selasa, 06 September 2011
Arti dan Makna Pohon di rumah
Disarankan menanam pohon sedap malam
makna yang didapat, pemilik rumah yang menanam pohon itu dipekarangan rumah, akan mendapatkan rasa tentram dan damai dalam kehidupan keluarga.
Disarankan menanam pohon pinang merah
makna yang didapat, akan dapat mengundang rezeki. Dapat pula menjadi penangkal niat jahat dari orang yang hobby meneluh, guna-guna, santet dan sebagainya.
Disarankan menanam pohon bunga matahari
makna yang didapat, kebahagiaan dan kedamaian serta keharmonisan dalam rumah tangga pemiliknya.
Disarankan untuk menanam sawo kecik
makna yang didapat, sang pemilik rumah akan selalu dihormati masyarakat
Disarankan untuk menanam pohon kenanga
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam, guna-guna, santet, teluh, dan sejenisnya.
Disarankan menanam pohon kelor
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam, guna-guna, santet, teluh, dan sejenisnya.
Disarankan untuk menanam pohon kuping gajah
makna yang didapat, akan membawa rezeki lebih lagi jika pohon tumbuh subur
Disarankan untuk menanam pohon bunga wijayakusuma
makna yang didapat, akan sebagai pengundang rezeki kepada pemilik rumah, terutama jika sedang mekar
Disarankan untuk menanam pohon bunga mawar
makna yang didapat, sebagai pengundang rezeki bagi pemilik rumah
Disarankan menanam pohon talas besar diempat sudut pekarangan rumah
makna yang didapat, sebagai penangkal pencuri masuk ke dalam rumah
Jikalau anda seorang usahawan janganlah anda menanam anggur dihalaman rumah
makna yang didapat, semua usaha akan bangkrut
Jikalau anda memiliki bunga kamboja berkelopak ganjil
makna yang didapat, sebagai pemanggil rezeki
Jikalau anda memiliki bambu buta atau bambu tidak berongga
makna yang didapat, sebagai penangkal ilmu hitam
Jikalau anda ingin menghadap penguasa kantungilah daun sirih
makna yang didapat, sebagai sarat agar omongan anda selalu didengar
Jikalau anda ingin menghadapi ujian simpanlah sebagai injakan sepatu daun sirih
makna yang didapat, dapat memberikan ketenangan
Jikalau anda ingin mengunjungi rumah pacar untuk pertama kali kantungkanlah kedalam kemeja daun sirih
makna yang didapat, akan menimbulkan ketenangan dan membangkitkan kesan simpati pada sang kekasih dan calon mertua
Janganlah menanam pohon beringin di halaman rumah
makna yang didapat, karena akan menjadi tempat tinggal roh-roh jahat
Janganlah anda menanam pohon maja di halaman rumah
makna yang didapat, usaha bisnis akan bangkrut
Anjuran menanam pohon jahe di halaman rumah
makna yang didapat, sebagai penangkal roh halus yang jahat
Janganlah menanam padi di halaman rumah
makna yang didapat, anda akan menderita kemiskinan seumur hidup
Janganlah menunjukkan tangan jari anda kearah bunga pada pohon-pohon yang akan berbuah
makna yang didapat, bunga-bunga pada pohon tersebut akan berguguran dan tak akan berbuah.
Janganlah menanam pohon pepaya dihalam rumah
makna yang didapat, pemilik rumah akan menderita kesialan, karena hasil usahanya akan merosot tajam dari hari-kehari.
Janganlah menanam pohon anggur disekitar rumah
makna yang didapat, pemiliknya akan kehilangan mata pencaharian
Janganlah menanam pohon belimbing wuluh
makna yang didapat, sang pemilik rumah akan selalu diganggu roh halus yang jahat
Janganlah menanam jagung di halaman rumah
makna yang didapat, sang pemilik akan selalu sakit-sakitan dan akan selalu bertengkar dengan tetangga atau keluarga.
Janganlah menanam pohon kemboja dihalaman rumah
makna yang didapat, akan selalu menimbulakn kesan seram seperti suasana kuburan, dan konon dapat mengundang roh jahat yang aka selalu mengganggu.
Janganlah menebang pohon bambu pada hari pasaran (saat) wage
makna yang didapat, bambu yang akan digunakan akan cepat patah atau rapuh
Janganlah menanam pohon bawang
makna yang didapat, bila menanam di pekarangn rumah akan memberi pengaruh yang menyedihkan yaitu, pemilik akan selalu ditimpa kesialan.
Janganlah menanam pohon cabe
makna yang didapat, bila menanamnya dipekarangan rumah sang pemilik rumah akan selalu bertengkar dan berselisih diantara sesama anggota keluarga dalam rumah tangga
source:http://www.primbon.com/tanaman.htm
Senin, 05 September 2011
Mudik Idul Fitri
Mudik memang seakan menjadi suatu kebutuhan batiniah lebih daripada lahiriah. Karena secara lahirian (badan), maka Anda hanya melakukan tindakan menyiksa diri sendiri secara sadar dan sukarela. Sedangkan secara batiniah, Anda merasa harus kembali ke pelukan kampung halaman, terutama jika disana masih ada orang tua, sanak saudara, dan mungkin juga teman temin (baik mesra maupun tidak). Sebagai orang dengan budaya dari timur, sudah layak dan sepantasnyalah kita menjunjung tinggi balas budi dan abdi baik kita kepada orang tua. Karena kalau tidak, KUALAT lah hukumnya. Siapa yang mau dianggap kualat dengan orang tuanya? ambil contoh lah si Malin Kundang yang dikutuk menjadi batu karena kualat terhadap Ibunya seorang. Jadi, daripada dikutuk oleh orang tua, jauh lebih baik lah Anda memenuhi kebutuhan batiniah tersebut.
Biasanya, mudik diidentikkan dengan adanya hari raya besar Umat Islam di Indonesia. Karena, menjelang hari raya ini dan juga setelahnya, pemerintah selaku penguasa pemberi hari cuti bersama menetapkan hari-hari sebelum dan sesudah Hari raa Idul Fitri (a.k.a Lebaran) sebagai hari cuti bersama. Jadi, bagi para pencari uang/rejeki seperti saya dan juga Anda, baik yang sudah terbit hari cutinya maupun yang masih memangku penuh harap kapan mendapat jatah cuti, hari tersebut sangatlah dinantikan.
Liburan menjadi tema utama yang hangat diperbincangkan menjelang hari-hari tersebut, dan tentu saja silaturahmi dengan handai taulan di Hari Raya Idul Fitri. Libur menjadi sangat bermanfaat bagi manusia secara umumnya, karena dengan libur berarti Anda meluangkan sedikit waktu untuk mengistirahatkan pikiran Anda untuk hal-hal yang rumit dan berbau kerjaan, dan menggantinya dengan pikiran siapa yang harus mengepel dan juga mencuci baju serta memomong anak dikala sang asisten rumah tangga (A.R.T.) Anda pulang.
Ya, liburan di kala musim mudik tiba memang memberikan efek yang kurang menyenangkan juga, terutama ketika Anda menjadi penunggu rumahan, mengambil alih tugas si A.R.T. yang selama ini tidak menjadi beban pikiran Anda. Bagi Anda pemilik pikiran nan positif, akan menganggapnya sebagai kesempatan untuk melatih gerak badan yang mungkin termasuk kurang (apalagi hidupnya cuman di kubikel kantor yang kerjaannya duduk lebih lama dari berdiri dan ditambah cemilan). Namun, bagi Anda sang oportunis, Anda sudah bersiap-siap kabur liburan sejak dimulai dengan si A.R.T. tidak lagi berada di rumah. karena hanya dengan cara Anda tidak ada di rumah lah maka Anda menjadi terbebas dari tugas rutin A.R.T. anda. Sayang, seperti saya, ada juga orang yang ingin menjadi oportunis dan memilih kabur dari tugas tersebut, hanya saja tidak didudukung dengan kemampuan lain (sebut saja waktu, tenaga, kesempatan - bisa juga dirangkum jadi satu: DANA/UANG/HEPENG/MONEY/FULUS/DUIT) sehingga mengharuskan Anda menjadi seorang positif thinker (kalau mampu) sehingga membuat tugas tersebut menjadi tidak terlalu terasa memberatkan. Sayang, jarang yang mampu kalau tidak terbiasa, termasuk juga saya yang kadang semangat kadang tidak.
Kelengangan Jakarta yang saya sukai selama musim mudik ini ternyata hanya berpindah tempat. Mudik yang juga identik dengan pemindahan kemacetan Jakarta ke beberapa ruas jalur mudik yang sudah dipersiapkan dengan matang oleh Bapak-Ibu Petugas lalu Lintas dari POLRI. Bayangkan saja, pemudik dari jakarta dan juga pemudik kagetan akan memenuhi jalur tersebut menjelang dan juga selesai Hari Raya Idul Fitri. Bahkan kejadian macet yang berulang kali terjadi pun tidak membuat kaum rantau untuk gentar menempuh jalur tersebut, demi memenuhi kebutuhan batiniah mereka. Sungguh suatu tindakan yang patut diacungi 2 jempol.
Paling tidak, semua kelenggangan ini tetap membawa berkah, semua penduduk yang tersisa dan memutuskan menyisakan diri di jakarta turut senang. Polusi udara hasil pembakaran karbon pun berkurang (udah ada yang itung belom yah?). Beban yang diterima jalan-jalan utama dan kecil pun turut berkurang, memperpanjang umur ekonomis jalan raya. Membantu dalam pengeksplorasian Jakarta yang sangat malas dilakukan dengan penduduk penuh sehari-hari. So, banyak juga positifnya toh.. Pasti ada juga sisi kekurangannya, tapi demi menuntaskan misi berpikir positif sisa hasil akibat adanya mudik, maka saya bahas yang positif aja.
Kegiatan mudik tahun ini berangsur-angsur selesai, dan semua aktivitas kembali ke sediakala. Hanya saja masih ada sisa-sisa akibatnya tersebut, ada yang masih merasa kelelahan karena tugas harian A.R.T. mereka, ada juga yang kelelahan lahiriah akibat mudik, namun itu semua seakan telah menjadi rutinitas. Dan yang tidak kalah pentingnya lagi, selalu dinanti orang yang merayakan maupun tidak. Semoga kita masih diberikan umur panjang untuk bertemu di kegiatan mudik tahun-tahun mendatang.
Mumpung masih suasana Idul Fitri, ijinkan saya mengucapkan mohon maaf lahir dan bathin. Maapin ane, barangkali ade saleh-saleh kate maupun tingkah.
C u next Mudik...
Rabu, 03 Agustus 2011
ad dict ed/ə`diktid/Adjective & chal•lenge [chal-inj] noun
1. Physically and mentally dependent on a particular substance, and unable to stop taking it without incurring adverse effects
- she became addicted to alcohol and diet pills
2. Enthusiastically devoted to a particular thing or activity
- he's addicted to computers
(Ref: http://www.google.com/search?hl=en&rls=com.microsoft:en-us&q=addicted&tbs=dfn:1&tbo=u&sa=X&ei=yvU4TqX7JYXJrAfa86wc&ved=0CBQQkQ4&biw=1259&bih=624)
Itu terjemahan yang muncul ketika pertama kali saya ketikkan kata addicted di dalam google search engine. Yup, kata ini terngiang di telingaku beberapa hari belakangan ini, dan memuncak pada hari ini (pagi menjelang siang ini). Mungkin kata yang sering diasosiasikan dengan kata addicted atau yang diterjemahkan bebas ke Bahasa Indonesia sebagai kecanduan, adalah obat-obatan terlarang atau juga minuman beralkohol.
ke•can•du•an v ki kejangkitan suatu kegemaran (hingga lupa hal-hal yg lain)
Tidak saya lanjutkan lebih jauh tentang kata ini, karena memang nanti ga nyampe-nyampe ke intinya. Saya focus ke terjemahan Bahasa Inggrisnya yang nomer 2(dua), yakni enthusiastically devoted to a particular thing or activity hal inilah yang mendasari dasar pemikiran saya berikutnya.
The DSM- IV (the holy grail of psychiatric diagnosis) has described seven distinctive addiction criteria:
1. Substance is taken in larger amount
2. Persistent desire or repeated unsuccessful attempts to quit
3. Much time or activity is spent to obtain, use, or recover
4. Important social, occupational, or recreational activities given up or reduced
5. Use continues despite knowledge of adverse consequences
6. Tolerance occurs which a marked increase in amount is taken with a marked decrease in effect.
7. Characteristic withdrawal symptoms
Menurut DSM, 7 hal ini menjadi ciri-ciri seseorang sudah termasuk ke dalam kriteria kecanduan. Makin banyak kriteria tersebut Anda temui dalam diri Anda, maka makin besar kemungkinan Anda kecanduan akan hal tersebut.
Terus mau kemana arah bahasan ini? Satu lagi bahasan pendukung untuk melengkapi yang saya maksud, yaitu tantangan!
chal•lenge [chal-inj] noun, verb, -lenged, -leng•ing, adjective
noun
1. A call or summons to engage in any contest, as of skill, strength, etc.
2. Something that by its nature or character serves as a call to battle, contest, special effort, etc.: Space exploration offers a challenge to humankind.
3. a call to fight, as a battle, a duel, etc
4. A demand to explain, justify, etc.: a challenge to the treasurer to itemize expenditures.
5. Difficulty in a job or undertaking that is stimulating to one engaged in it.
(Ref: http://dictionary.reference.com/browse/challenge)
Saya fokus pada nomer 5(lima), yakni Difficulty in a job or undertaking that is stimulating to one engaged in it. Karena beberapa hari ini diskusi saya dan rekan kerja tidak jauh dari bagaimana berjuang dan bertahan dalam perusahaan yang sedang membangun system dan perusahaan yang sudah memiliki system di dalamnya. Dan ternyata, keduanya memiliki tantangan yang berbeda. Kemudian, rekan saya juga mencurahkan hatinya mengenai masalah tantangan. Menurutnya, ia hanya akan berpindah dari perusahaan jika memang sudah dirasakan tidak ada lagi tantangan dalam tempat dimana ia bekerja.
Oleh karena itu, erat sekali dengan pengertian tantangan (challenge) yang nomor 5(lima) tersebut, dimana bias juga tantangan diartikan sebagai kesulitan dalam sebuah pekerjaan atau melakukan suatu kegiatan yang membangkitkan semangat seseorang. Yup, bicara mengenai tantangan tentu tidak akan ada habisnya, dan itu semua tergantung dari bagaimana sudut pandang yang Anda miliki untuk dapat melihat tantangan itu sendiri. Tantangan memang akan dan selalu ada dalam setiap aspek hidup manusia, terutama ketika melakukan kegiatan yang kita sebut bekerja.
Bagaimana Anda menanggapi tantangan tentu akan mempengaruhi bagaimana Anda menjalani dan menuntaskan tantangan tersebut. Dalam bahasan ini, tantangan yang saya bahas tentu akan ditanggapi sebagai positif, karena akan dikaitkan dengan bagaimana sebuah tantangan bias menjadi begitu mencandu. Hal ini pada awalnya mungkin akan dipandang baik, karena menjadikan suatu tantangan sebagai sebuah keadaan yang harus dan baik adanya. Kesulitan bukan lagi suatu momok menakutkan melainkan sebagai suatu keadaan yang dicari, bahkan kalau tidak ada akan menjadi suatu hal yang menakutkan. Seperti halnya cerita teman saya tadi, yang justru akan pergi ketika tantangan itu sudah tidak lagi ditemukan dimana ia bekerja.
Bagaimana Anda tahu bahwa tantangan tersebut tidak membuat anda kecanduan?
Dengan mempertimbangkan 7 ciri yang sudah disebutkan sebelumnya, mari kita telaah bagaimana tantangan bisa menjadi sebuah kecanduan.
1. Substance is taken in larger amount
Ketika pertama kali Anda berhasil menyelesaikan sebuah tugas dengan hasil baik, tentu ada rasa kepuasan dan kebahagiaan yang muncul dalam diri Anda, dan tentu saja hal tersebut akan sangat membuat Anda ketagihan, apalagi jika pernah Anda rasakan lebih dari 5 kali..
2. Persistent desire or repeated unsuccessful attempts to quit
Rasa senang itu seperti layaknya afrodisiak, dan tentu secara psikologis Anda akan senang mengulang hal tersebut berkali-kali. Dan ketika itu berulang, artinya Anda juga akan terus mencari tantangan yang baru dan lebih sulit lagi untuk mendapatkan kepuasan yang lebih besar lagi..
3. Much time or activity is spent to obtain, use, or recover
Apakah anda pernah merasakan keletihan dan seakan Anda merasa bahwa tenaga Anda sudah terkuras dengan sangat hebat sehingga tidak lagi mampu untuk bergerak sekalipun. Anda hanya merasa ingin istirahat yang lama, dan tidur yang pulas untuk mengembalikan stamina Anda. Namun begitu, Anda kerap mencari tantangan baru dan lebih hebat lagi di kemudian hari ketika tenaga Anda benar-benar pulih.
4. Important social, occupational, or recreational activities given up or reduced
Berapa lama waktu yang Anda habiskan untuk bekerja, apakah benar 8 jam? Atau ternyata lebih? Belum lagi ketika Anda terus memikirkan pemrasalahan yang muncul di kantor pada saat seharusnya Anda menghabiskan waktu dengan keluarga. Banyak yang mengatakan tubuh tidak lagi ada jiwa di dalamnya, pikiran Anda melayang ke kantor sementara tubuh tetap berada di rumah. Banyak juga yang tidak lagi percaya bahwa masalah rumah tidak boleh (atau akan) mempengaruhi masalah kantor, memang suatu hal yang mustahil karena akan saling berhubungan, akan tetapi itu semua harus dimulai, karena kalau tidak waktu Anda yang berkualitas untuk istirahat, untuk keluarga, dan untuk diri Anda sendiri akan semakin terkikis habis. Dan akhirnya, hidup Anda benar-benar tersedot habis total oleh pekerjaan yang Anda “cintai”.
5. Use continues despite knowledge of adverse consequences
Meskipun Anda menyadari segala yang muncul di atas, akan tetapi Anda serasa tidak berdaya untuk mengatasinya dan memutuskan tali rantainya. Selalu saja ada alasan yang Anda kemukakan untuk diri sendiri dan meyakinkan Anda bahwa Anda tidak melakukan kesalahan. Anda merasa harus memberikan totalitas dalam bekerja dan dalam menyelesaikan tugas dan tanggung jawab Anda. Hingga akhirnya Anda lupa bahwa Anda memiliki tugas dan tanggung jawab lain dalam hidup Anda yang tidak hanya terbatas pada bidang pekerjaan Anda saja.
6. Tolerance occurs which a marked increase in amount is taken with a marked decrease in effect.
Anda pernah berjanji bahwa ini adalah kesempatan yang terakhir, tetapi seringkali Anda ingkar kepada janji Anda sendiri dan kembali melakukan hal yang serupa di kemudian hari. Anda sadar bahwa tindakan Anda menghabiskan waktu berkualitas Anda dengan keluarga, bahwa kesehatan Anda menurun, bahwa tekanan pikiran Anda meningkat setiap harinya, dan apa yang Anda lakukan? Hanya sebatas mengeluh dan tidak melakukan tindakan apapun yang sungguh-sungguh memperbaiki hal tersebut. Justru kebalikannya, Anda malah semakin menjadi-jadi untuk kembali melakukan hal yang smaa berulang kali lagi, karena Anda merasa itu semua akan terbayar kelak nanti ketika Anda sudah mencapai tujuan yang Anda mau. Apakah Anda tahu dimana dan apa tujuan tersebut? Kalau Ya, apakah ada batas waktunya? Kalau Belum, lalu untuk apa Anda melakukan semua itu?
7. Characteristic withdrawal symptoms
Akhirnya, perlahan tapi pasti, Anda mulai menarik diri Anda sendiri dari lingkungan social dimana Anda berada, dan memiliki dunia sendiri, sehingga Anda melakukan pembenaran secara sepihak bahwa apa yang Anda lakukan adalah apa yang terbaik untuk Anda sendiri. Anda merasa bahwa orang lain yang tidak sama dengan Anda adalah orang yang ‘aneh’, dan Anda kemudian akan mencari lingkungan dengan orang-orang yang setipe dengan Anda (hanya semata untuk membela kepercayaan Anda). Justru hal ini akan semakin menguatkan Anda untuk tertarik semakin jauh ke dalam kecanduan akan tantangan dan tentu saja Anda akan menilai orang lain menjadi kurang tantangan.
Lalu apa yang harus Anda lakukan?
1. Tanamkan diri Anda bahwa tantangan itu baik, TETAPI dengan porsi yang seimbang.
Satu dua tantangan tentu tidak akan membunuh Anda, akan tetapi Anda harus ingat bahwa Anda masih memiliki tujuan hidup lainnya, selain tantangan tersebut. Ada tantangan lain dalam hidup Anda yang tentu harus Anda capai, dan ketika sudah mencapainya, jangan lupa untuk bersyukur bahwa Anda sudah mencapainya.
2. Berikan batasan waktu yang jelas, akan semua aktivitas dalam hidup Anda.
Kita semua tahu bahwa hidup memang memiliki prioritas, dan tugas Anda memilih mana prioritas yang terbesar dalam hidup Anda baru kemudian diikuti dengan prioritas kecil lainnya. Dan ingat, prioritas artinya penting, baik besar maupun kecil pentingnya adalah sama (sesuai dengan porsinya masing-masing).
3. Work Life balance.
Hidup yang seimbang memang seakan seperti mimpi yang tidak akan pernah terwujud, akan tetapi bukankah mimpi itu memang untuk dikejar dan yang paling penting adalah mimpi itu untuk dijalani setiap waktu dan setiap harinya. Jadi, kalau Anda tidak pernah melakukan apapun untuk mewujudkan kehidupan seimbang antara pekerjaan dan kehidupan, maka tentu saja hal tersebut hanya akan menjadi utopia yang basi!
Tantangan, selalu ada untuk membuat hidup Anda menjadi lebih berarti, karena tanpa tantangan tentu saja hidup ini akan menjadi hambar dan hampa. Tetapi, ketika Anda menjadi lupa diri akan usaha mencapai keberhasilan di balik setiap tantangan tersebut dan lebih parah menjadi suatu kecanduan, maka hidup Anda akan berubah total secara perlahan menjadi pasti kearah menghancurkan diri sendiri. Jadi, keputusan ada di tangan Anda, kalau Anda merasa tidak ada masalah dengan apa yang akan terjadi ke depannya, semua adalah pilihan Anda. Lagipula, hidup adalah pilihan, yang harus dipilih dengan segala konsekuensi di dalamnya.
Selasa, 19 Juli 2011
Setahun kemarin
by: KAHITNA
Di ujung jalan itu
setahun kemarin, ku teringat
Kau menungguku
Bidadari belahan jiwaku
Entah berapa lama
Satu jam menanti, kutermenung
Kencan pertama hilang tak bertepi di anganku
Melangkah pergi Berteman sepi
Terbayang teduh matamu
Sayang, walau bulan tak bercahaya
Cintaku selalu dalam jiwa
Di lubuk hati terdalam
Sayang, jika memang kau sungguh sayang
Diriku takkan berpaling lagi
Ku peluk selamanya
Yup, lirik di atas hanya sekedar pengantar saja, tulisan kali ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kisah kasih milikku.
Setahun lalu, di tanggal-tanggal ini, saya berada dalam persimpangan jalan yang sangat berat, dan itu semua kulalui dengan tegar. Saya menjalani rapat pertanggung-jawaban pemegang saham dari kantor yang kupimpin dan kurintis. Penuh halang rintang, namun kini itu semua menjadi pengalaman yang mendewasakan.
Banyak penglaman berharga yang kupetik pada saat itu, yang memang tidak pernah kudapatkan di bangku kuliah. Pengalaman yang hanya diajarkan oleh guru abadi, yakni "HIDUP".
1. Jangan menunda hal kecil
Banyak sekali persoalan kecil, yang pada waktu lalu terkesan belum penting namun menjadi perhatian akhirnya terabaikan. Hal ini terutama terkait dengan masalah pencatatan uang yang memang penuh dengan hal sensitif dan kurang menarik. Pada akhirnya, hal yang sepele tersebut menjadi sumber permasalahan yang merepotkan. Nah tips dari saya, jika Anda memang tidak berpengalaman di bidang pencatatan keuangan, sebaiknya cari atau rekrut orang yang memang berpengalaman di bidangnya. (NB: kalau mau lebih irit, minta tolong sama saudara yang memang paham hal ini).
2. Kerjasama dengan orang yang senasib sepenangungan
Sebuah kerja sama selalu diawali dengan rasa senang, suka cita, penuh gegap gempita, dan rasa tidak sabar untuk memulai jalinan kerjasama tersebut. Namun, seiring dengan persoalan yang timbul, semakin lama semakin banyak. Semakin banyak masalah yang muncul akan membuatmu semakin mudah untuk memberikan penilaian akan kinerja dari rekan kerjamu. Ada yang memang tidak setia dengan kata awal, ada yang memang benar menunjukkan keseriusan dalam kelangsungan kerja sama yang baik. Jangan pernah hanya tergiur dengan pemanfaatan sebelah pihak, artinya, Anda hanya mengandalkan hubungan berazas manfaat. Kalau manfaatnya sudah mulai habis, maka Anda sudah pasti akan malas melanjutkan hal tersebut. Carilah rekan kerja yang memang benar-benar mau memikul berat yang sama dan menjinjing ringan yang sama. Tidak akan ada rekan kerja yang instan langsung begitu hebat. Semua butuh PROSES, dan kalau sudah menyebut proses, artinya butuh waktu yang hitungannya bisa tahunan, kalau untung bulanan juga bisa. Intinya, pengalaman pahit akan menunjukkan sesungguhnya siapa rekan kerja Anda yang mungkin manis di awal dengan janji-janjinya belaka. Tips: sebisa mungkin sih cari rekan yang kurang lebih satu level dengan Anda, artinya tidak timpang sebelah. Kalau belum ketemu, lebih baik menunda sebentar untuk mencapai hasil yang lebih maksimal. (NB: rekan kerja juga harus bisa jadi pendukung dan oposisi secara bergantian dalam kapasitasnya)
3. Berpegang teguh pada pendirianmu.
Seperti halnya, itu yang membuatmu memulai suatu tindakan. Jadikan juga pendirianmu sebagai hal terakhir yang tetap berdiri tegar menemanimu hingga akhir nanti. Ketika harus kau mengalah pada kenyataan pahit hidup, biarkan pendirianmu tetap tegar menjulang memperjuangkan idealisme dalam dirimu. Karena, hanya itu dan itu saja yang akan membuatmu terus bangkit berjuang setelah kegagalan demi kegagalan menghampiri. Jadi, jangan pernah berhenti berjuang dengan pendirianmu.
Hmm, mungkin banyak hal yang bisa dipelajari, mungkin juga ketiga hal diatas tidak bermakna atau rendah untuk Anda, tapi setidaknya saya telah mempelajari hal tersebut langsung dari 'sang guru'. Saya berterima kasih atas apa yang terjadi pada diriku sampai dengan detik ini. Tidak lupa, TUHAN, yang senantiasa berada menaungiku.
Kamis, 08 Juli 2010
Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja.
Sering kali aku berkata,
ketika orang memuji milikku,
bahwa sesungguhnya ini hanya titipan,
bahwa mobilku hanya titipan Nya,
bahwa rumahku hanya titipan Nya,
bahwa hartaku hanya titipan Nya,
bahwa putraku hanya titipan Nya,
tetapi, mengapa aku tak pernah bertanya,
mengapa Dia menitipkan padaku?
Untuk apa Dia menitipkan ini pada ku?
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus kulakukan untuk milik Nya ini?
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipan itu diminta kembali oleh-Nya?
Ketika diminta kembali,
kusebut itu sebagai musibah,
kusebut itu sebagai ujian,
kusebut itu sebagai petaka,
kusebut dengan panggilan apa saja untuk melukiskan bahwa itu adalah derita.
Ketika aku berdoa,
kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku,
aku ingin lebih banyak harta,
ingin lebih banyak mobil,
lebih banyak rumah,
lebih banyak popularitas,
dan kutolak sakit,
kutolak kemiskinan,
Seolah ...
semua "derita" adalah hukuman bagiku.
Seolah ...
keadilan dan kasih Nya harus berjalan seperti matematika:
aku rajin beribadah, maka selayaknyalah derita menjauh dariku, dan Nikmat dunia kerap menghampiriku.
Kuperlakukan Dia seolah mitra dagang, dan bukan Kekasih.
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku", dan menolak keputusanNya yang tak sesuai keinginanku,
Gusti, padahal tiap hari kuucapkan,
hidup dan matiku hanyalah untuk beribadah...
"ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
WS Rendra
Rabu, 24 Maret 2010
Parents wannabe
It was shocking, great news and also makes me worried. Great that i will soon become a father. Worry that can i be a good one?
We're now in our 1st month, still 8 to go. Ups and downs were there, can't deny it. But the most important thing is to keep our child warm and safe until he/she is ready to see this world.
Today, i found this interesting Ten Commandments for Parents. It sure will remind us what to do in the upcoming our beloved son/daughter.
(taken from: Telling It Like It Is )
1. My hands are small; please don’t expect perfection whenever I make my bed, draw a picture or throw a ball. My legs are short; please slow down so that I can keep up with you.
2. My eyes have not seen the world as yours have; please let me explore safely; don’t restrict me unnecessarily.
3. Housework will always be there. I’m only little for such a short time-please take the time to explain things to me about this wonderful world and do so willingly.
4. My feelings are tender; please be sensitive to my needs; don’t nag me all day long. (You wouldn’t want to be nagged for your inquisitiveness). Treat me as you would like to be treated.
5. I am a special gift; please treasure me as my Creator intended you to do, holding me accountable for my actions, giving me guidelines to live by and disciplining me in a loving manner.
6. I need your encouragement, not just your praise to grow. Please go easy on the criticism; you can criticize the things I do without criticizing me.
7. Please give me the freedom to make decisions concerning myself. Permit me to fail, so that I can learn from my own mistakes. Then someday I will be prepared to make the kind of decisions life will require of me.
8. Please don’t do things over for me. Somehow that makes me feel that my efforts didn’t quite measure to your expectations. I know it’s hard, but please don’t try to compare me to my brother or sister.
9. Please don’t be afraid to leave for a weekend together. Kids need a vacation from parents, just as parents need vacations from kids. Besides it’s a great way to show us kids that your marriage is very special.10. Please set a good example for me to follow in all the ways of life. I enjoy watching the things you do and want to do them just like you do.
reference: A Child’s Ten Commandments For Parents Posted on April 7, 2008, 5:00 am, by Lin
Rabu, 02 Desember 2009
This is the moment...
We've been preparing this matrimony for the last 6 months. It sure not an easy way, since normally people prepare their wedding for 9 up to 12 months. But hey, it was not about the time you had, but how could you handle and prepare all the things fit and proper. And we did it. Though we have so many bumps along the road, but who cares, it was just memories now. Memories that will lasts forever, since we can face it all elegantly.
The next 3 days will or should be hectic along the way, but i don't want it ruining the last 6 months preparation we have pursue. It should be the toughest part of all the preparation, but I know we can get through it. What am i suppose to think that, i really hope that this moment is not just pass away like that. I am trying to enjoy every single moment of it, since it's only happen once in a lifetime. So, here i am, ready to face it all until the day is over, and the brand new one come.
What keeps me awake and strong is the imagination that i will have a partner in life, partner in 'crime', and partner to share all my trouble and problem. But it's not just that, i will have someone to share my happiness, and the most important thing is, i don't have to sleep alone! The imagination that we will do things together, start from shopping until solving issues and dealing with problems. It's not just me and you anymore, it's about us and we. Our family, our marriage, our life, our happiness, not mine and not yours.
Soon, it will begun. A new day, new hope, new life will soon begun. All i can do is pray, and asking God's grace to shower our life with strength and serenity, to face whatever will held in front. So that we can hail glory to the God, that we did it as His own will and to worship Him.
Wedding Vow
Saya berjanji setia kepadamu,
dalam untung dan malang,
di waktu sehat maupun sakit.
Saya akan mencintai dan menghormatimu,
sepanjang hidupku.
Selasa, 15 September 2009
ANAK KATAK DAN HUJAN
"Bu, apa kita akan binasa? Kenapa langit tiba-tiba gelap ? ucap anak katak sambil merangkul erat lengan induknya.
Sang ibu menyambut rangkulan itu dengan belaian lembut. "Anakku," ucap sang induk kemudian. "Itu bukan pertanda kebinasaan kita. Justru, itu tanda baik," jelas induk katak sambil terus membelai. Dan anak katak itu pun mulai tenang.
induknya. "Anakkku, itu cuma angin," ucap sang induk tak terpengaruh keadaan. "Itu juga pertanda kalau yang kita tunggu pasti datang!" tambahnya begitu menyenangkan. Dan anak katak itu pun mulai tenang. Ia mulai menikmati tiupan angin kencang yang tampak menakutkan.
"BLAAARR !!!! Suara petir menyambar-nyambar. Kilatan
cahaya putihpun kian menjadikan suasana begitu menakutkkan. Kali ini, si anak katak tak lagi bisa bilang apa-apa. Ia bukan saja merangkul dan sembunyi di balik tubuh induknya. Tapi juga gemetar. "Buuu, aku sangat takut. Takut sekali!" ucapnya sambil terus memejamkan mata. "Sabar, anakku ! Ucapnya sambil terus membelai. "Itu cuma petir. Itu tanda ketiga kalau yang kita tunggu tak lama lagi datang! keluarlah. Pandangi tanda-tanda yang tampak menakutkan itu. Bersyukurlah, karena hujan tak lama lagi datang." ungkap sang induk katak begitu tenang. Anak katak itu mulai keluar dari balik tubuh induknya. Ia mencoba mendongak, memandangi langit yang hitam, angin yang meliuk-liukkan dahan, dan sambaran petir yang begitu menyilaukan.Tiba-tiba, ia berteriak kencang, "Ibu, hujan datang. Hujan datang!! Horreeee!"
Persis sama anak katak yang takut cuma karena langit hitam, angin yang bertiup kencang, dan kilatan petir yang menyilaukan. Padahal, itulah sebenarnya tanda-tanda hujan. Benar apa yang diucapkan induk katak : jangan takut melangkah, jangan sembunyi dari kenyataan, sabar dan
hadapi. Karena hujan yang ditunggu akan datang.
Sesungguhnya setelah kesukaran itu ada kemudahan.
Dari warta Santo Matius Bintaro
Kamis, 23 Juli 2009
Selamat Hari Anak Indonesia!
Ada satu persitiwa lucu yang juga saya dapatkan di radio pagi ini...ada seorang pakar, yang saya juga lupa namanya...mendapatkan ucapan selamat hari anak dari salah seorang pendengar dalam rangka telewicara...dan anehnya lagi...pakar tersebut mengucapkan terima kasih atas ucapan selamat itu...
saya kembali berpikir, apakah saya yang bodoh atau apalah...tetapi jelas, bahwa pakar itu sudah bukan anak-anak lagi...dan...selamat hari anak...harusnya diucapkan dan ditujukan kepada mereka yang masih anak-anak...yah, setidaknya itu yang saya pikir sebagai hal yang tepat dan pantas...tapi kok...malah seorang bapak yang mungkin...masih kagok dan kaget karena dihubungi pihak radio untuk dimintakan pendapatnya mengenai Hari Anak pada saat matahari pun belum menampilkan wajahnya secara utuh.
Tetapi...intinya adalah....mengapa baru dan hanya di hari ini saja, anak-anak mendapatkan perhatian secara khusus? Kalau tidak percaya, besok, semua sudah kembali normal, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Perhatian kepada anak, bukan merupakan hal sewaktu-waktu saja. Perhatian kepada anak haruslah diberikan secara konstan dan konsisten, sehingga momentum hari Anak hanyalah sekedar memorandum, pengingat, dan pendorong untuk terus memberikan perhatian lebih kepada Anak.
Anak adalah masa depan, begitulah setidaknya yang masih kita percayai. Kalau sudah tidak percaya bahwa Anak akan menjadi masa depan, lalu siapa lagi? anda? saya? Jelas bukan, karena anak-anak suatu saat akan menjadi dewasa sama seperti kita saat ini. Suatu saat nanti, anak akan menjadi orang tua, pemimpin, apapun yang hebat yang mereka kehendaki...tetapi semua tergantu dari kita, anda dan saya untuk terus memberikan pendidikan yang terbaik bagi mereka. Karena kalau bukan kita, siapa lagi?
Anak-anak akan dan pasti mempelajari sesuatu yang baru setiap saat, tugas kita hanyalah membimbing dan mengarahkan serta menjelaskan mana yang baik dan mana yang buruk. Bukan dengan tujuan mendikte mereka, tetapi lebih ke arah memberitahu mereka sehingga mereka paham apa itu baik atau buruk. Satu cara yang paling mudah adalah dengan memberikan CONTOH. Ya, contoh yang baik agar mereka dapat ditiru. Bukan hal mudah, jelas!, tetapi hanya itulah cara agar mereka nanti dapat menjadi insan yang baik. Lalu, bagaimana membuktikan bahwa tingkah laku dan contoh yang kita berikan baik? bukankah semua itu sangat relatif? BENAR! Anda sendiri yang dianggap sebagai manusia dewasa yang menilai mana yang baik dan mana yang buruk. MENGAPA? karena anda adalah insan dewasa yang dipercaya oleh mereka telah memiliki gudang ilmu dan pengalaman yang berlimpah ruah.
Lalu bagaimana dengan agama, sekolah, dan lingkungan? Mereka tetap berpengaruh pada pendidikan dan pengalaman hidup si anak. TETAPI, pendidikan akhlak dan moral dimulai dari ANDA dan KELUARGA INTI mereka. Dalam hal ini, ayah, ibu, adik atau kakak. Mengapa tidak kakek dan nenek? karena mereka bukan keluarga inti. Tetap ayah dan ibu lah pemegang kendali utama bagaimana mendidik si anak. Jadi, tugas ayah dan ibu lah untuk memberikan pendidikan terus-menerus kepada anak, memberikan perhatian terus-menerus. Anda ikut bertanggung jawab terhadap masa depan Anda, karena melalui didikan merekalah anak menjadi seorang yang bermoral baik dan berakhlak mulia.
Sekali lagi, Selamat Hari Anak! Semoga setiap hari adalah hari untuk anak anda!
Jumat, 29 Mei 2009
My Upcoming Wedding Vows
"I vow to not go to bed angry"
Memberikan punggung pada pasangan usai bertengkar, ternyata bukan reaksi yang bijak. Penelitian yang dilakukan University of Washington mengungkapkan, pertengkaran yang dibawa tidur hanya akan meningkatkan gengsi ketimbang rasa sayang kita terhadap pasangan. Maka penelitian yang dilakukan pada Love Lab ini, mendorong setiap pasangan menyelesaikan masalah sebelum tidur. Tujuannya hanya satu, menyelesaikan permasalahan yang menguntungkan kedua belah pihak.
"I vow to keep our romance going -even when I'm not feeling romantic"
Kerja yang menumpuk yang dibayangi dengan acara rutin keluarga besar, sering kali membuat kita lupa akan kesenangan yang dilakukan sebelum menikah. Menonton film atau makan di restoran romantis, misalnya. Padahal momen berdua ini akan membuat kita dapat saling memperhatikan secara utuh. Habiskanlah waktu bersama di akhir pekan, untuk menyadari bahwa pasangan yang ada di samping kita adalah yang terbaik bagi kita.
"I vow to be honest"
Berapa kali kita rela menemani pasangan menonton siaran langsung sepak bola yang sebenarnya tidak kita sukai? Mencoba untuk menikmati, sebenarnya hanyalah menyiapkan bom waktu. Karena di dalam hati kita marah dan jenuh. Berjanji untuk menemani pasangan dalam keadaan suka dan duka, bukan berarti menyembunyikan kejujuran. Justru definisi cinta sejati adalah saat kita bisa jujur mengekspresikan apa yang kita rasa dalam kebersamaan.
"I vow to stay faithful - even if I'm tempted"
Polling mengungkapkan 28 persen laki-laki yang sudah menikah, akan mengalami affair pada usia 50 tahun. Dan 17 persen perempuan yang sudah menikah, juga mengalami hal yang sama. Memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis adalah hal yang wajar. Tapi yang membuat komitmen kita berbagi hidup selamanya lebih memiliki makna adalah ketika kita tidak ingin menguji diri kita sendiri.
"I vow to take care of myself"
Tanpa disadari menjaga dan merawat diri adalah cara untuk membuat pasangan kita selalu jatuh cinta. Kesehatan fisik dan emosi adalah modal utama untuk dapat mendampingi pasangan. Apabila kita sakit, pasangan kita pasti akan merasa kurang bersemangat menjalani rutinitas. Alhasil, hari-hari yang dijalani pun terasa lebih berat dari biasanya karena tidak ada kesenangan yang dapat dinikmati bersama.
"I vow to cultivate intimacy"
Tidak ada salahnya untuk menyediakan waktu untuk bermesraan. Waktu bermesraan ini, adalah cara untuk memperdalam ikatan dengan pasangan. Kita mendengarkan apa yang menjadi masalah terbesarnya, tanpa harus menggurui. Posisikan diri sebagai seorang pendangar yang baik. Kadang kala, memiliki pendengar yang baik adalah terapi terbaik untuk melepaskan stres.
source: kompas.com
Rabu, 15 April 2009
in the mood of love
apakah benar harus saling memiliki?
kalau memang sudah saling memiliki, lalu apa yang harus dilakukan lagi?
ada pepatah yang mengatakan bahwa memiliki suatu hubungan kasih itu bagaikan menggenggam pasir di telapak tanganmu. ketika pasir itu ada disana, jangan terlalu keras atau erat kau memegangnya. mengapa? karena pasir itu akan menyembur keluar dari sela-sela jarimu dan akhirnya, hanya sedikit yang tersisa untuk disimpan. lalu? haruskah dipegang dan dibiarkan terbuka? bukan juga seperti itu. kalau kau membiarkannya terbuka, maka pasir itu akan terhembuskan perlahan oleh angin dan akhirnya tak banyak lagi yang tersisa untukmu. Jadi? menurut pepatah, genggamlah pasir itu dengan penuh perasaan, jaga agar tidak tertiup angin, tetapi tidak terlalu erat sehingga ia mendesak keluar melalui sisi jemari tanganmu.
susahkah hal itu dilakukan? pernahkah anda mencoba apa yang dikatakan oleh pepatah itu? dalam situasi sebenarnya, menggunakan pasir di pantai? saya sudah, dan itu benar terbukti. lalu? sulit memang untuk mempertahankan agar pasir itu bertahan di telapak tangan. sama seperti sulitnya menjaga hubungan kasih. sulitnya dimana? saya pernah menjalani keseluruhan pepatah pasir tersebut dalam hidup saya. apakah akan segera berakhir? saya belum tahu, paling tidak dari setiap pengalaman pahit dan manis yang saya dapatkan selama ini, merupakan harta yang paling berharga dan membuat saya mampu untuk terus melangkah.
saya pernah menjaga terlalu erat hubungan yang saya miliki, tetapi hasilnya sama saja...hanya membuat saya dan pasangan menderita. dari situ kemudian saya belajar bahwa lebih baik hubungan tidak perlalu terlalu mengikat. dan kemudian saya lakukan hal yang saya pelajari itu, tetapi hasilnya tidak lebih baik. hasil yang saya terima jauh lebih mengecewakan bahkan terlalu menyakitkan untuk diceritakan kembali. akan tetapi, saya mendapatkan pengalaman lebih berharga lagi sesudah itu. pahit memang untuk dapat terus mempertahankan apa yang sudah ada, apa yang sudah terjadi, tetapi itu bukan penghalang untuk terus maju dan berubah menjadi lebih baik lagi.
pelajaran baru lagi didapatkan, jika memang tidak baik dibiarkan terlalu lepas, dan juga tidak baik dibiarkan terlalu erat, maka pilihan terakhir adalah menentukan di titik tengah. ada waktu dimana kau harus menjaga erat, terutama ketika angin mulai berhembus terlalu kencang dan membahayakan pasir di telapak tanganmu. hal itu ketika, mulai banyak godaan yang datang, mulai banyak kesempatan terbuka untuk melakukan perselingkuhan, banyak kesempatan datang ketika kau menjadi lebih dekat dengan orang lain dibandingkan kekasih hatimu. lalu di saat itu kau boleh menggenggam lebih erat apa yang kau miliki, agar jangan sampai dihembuskan oleh angin dan kehilangan. tetapi, ketika kau menjaganya terlalu erat, bahkan membuat sulit dirimu dan dirinya untuk bergerak, maka kau harus segera mencari tempat yang angin berhembus pelan dan kau mulai dapat memberikan gerak leluasa untuk berkembang dan bertumbuh. saat dimana, kau mengekangnya, kau mempertanyakan setiap gerak-geriknya, kau membatasi dirinya.
memang tidak ada yang mengatakan mudah menentukan kapan harus erat dan kapan harus leluasa. justru di sanalah letak sebuah pengalaman menjadi sesuatu yang bermanfaat. beruntung anda yang sudah mampu memprediksikannya tanpa perlu mengalami pengalaman pahit itu. tetapi, bukan berarti setiap orang harus mengalami kejadian tertentu, baru ia dapat belajar mengenai hal itu. pengalaman itu bisa didapatkan dengan 2 cara, baik melalui diri sendiri maupun belajar dari pengalaman orang lain. keduanya sama berharganya, dan sama tidak ternilai harganya. keduanya juga akan membantu kita dalam menjalankan sebuah hubungan kasih. lagipula, itu akan menjadi bumbu-bumbu rahasia yang membuat hubungan menjadi semakin berwarna dan semakin menguatkan. tanpa ada bumbu-bumbu rahasia, apa bedanya hubungan anda dengan orang lain? tanpa bumbu-bumbu rahasia, bagaimana anda mempunyai hubungan yang bernilai 'lebih' daripada hubungan orang lain? bukankah manusia diciptakan unik dan berbeda apa adanya, serta untuk saling melengkapi? kalau sudah satu manusia berbeda dan unik, lalu kemudian dilengkapi dengan satu lagi manusia yang unik dan berbeda, bukankah hubungan menjadi semakin berwarna dan meriah? jangan hanya melihat dari segi negatif, sekali lagi saya ingatkan bahwa tidak ada yang bilang bahwa hal ini mudah dilakukan, walaupun mudah dikatakan.
Semoga, hubungan kasih ini menjadi hubungan yang abadi. hubungan yang dapat membuat setiap manusia menjadi semakin indah dan berwarna, sehingga menghasilkan kebahagiaan di mata masing-masing manusia.
c'est la vie!
Selasa, 10 Februari 2009
Kecewa
Mengoyak luka lama yang mulai mengering
Apakah yang harus kuperbuat kali ini
Apakah memang ini jalan yang harus kutempuh
Tuhan, kalau memang ini adalah kehendakMu
...terjadilah...
Kumohon, berikan aku kekuatan untuk melewatinya
Dengan hati lapang dan tegar, biarkan aku melalui ini semua
Kenangan ini seakan terputar kembali dalam ingatan
Rasa pahit yang sama masih terasa getir di jiwa
Mengapa ini semua harus kualami berulang kali
Mampukah aku memaafkan diriku dan dirinya
Tuhan, kalau memang ini adalah kehendakMu
...terjadilah...
Kumohon, berikan aku kebesaran hati untuk memaafkan
Diriku dan dirinya, atas semua kejadian yang lalu
Aku tak mampu lagi menangis
Perlahan rasa pedih berubah menjadi kebebalan
Kumohon, ubahlah hatiku yang beku ini
Menjadi sebuah pancaran cahaya yang menghangatkan
Minggu, 08 Februari 2009
WORDS WOMEN USE
This is the word women use to end an argument when they are right and you need to shut up.
FIVE MINUTES
If she is getting dressed, this is half an hour. Five minutes is only five minutes if you have just been given 5 more minutes to watch the game before helping around the house.
NOTHING
This is the calm before the storm. This means "something," and you should be on your toes. Arguments that begin with 'Nothing' usually end in "Fine"
GO AHEAD
This is a dare, not permission. Don't do it.
LOUD SIGH
This is not actually a word, but is a non-verbal statement often misunderstood by men. A "Loud Sigh" means she thinks you are an idiot and wonders why she is wasting her time standing here and arguing with you over "Nothing"
THAT'S OKAY
This is one of the most dangerous statements that a woman can make to a man. "That's Okay" means that she wants to think long and hard before deciding how and when you will pay for your mistake.
THANKS
A woman is thanking you. Do not question it or faint. Just say you're welcome.
Let other men you know about this page to warn them about future arguments they can avoid if they remember the above terminology!
Selasa, 27 Januari 2009
Here I Am
I come into this world so wild and free
Here I am - so young and strong
Right here in the place where I belong
It's a new world - it's a new start
It's alive with the beating of young hearts
It's a new day - in a new land
And it's waiting for me
Here I am
Yup, this is me sitting in front of the laptop and expressing my thought. Last year was sure a rough and tough year for me. There's a lot of ups and also downs that i have to deal with. Especially in the last days oh year of 2008. It seems like the trouble choose the right time to come, one after another. It looks like i've done something bad and get punished for the bad attitude i did.
But now, as the lunar new year arrived, I have the new spirit to boost up my urge and effort to fulfill my dreams. This moment in time makes me think a lot, for all those things i've done, goods and bad. I even have sometimes to enjoying my long pending holidays i've searching for so long.
In the last year of rat, i'm doing not so great. I got much troubled in the early year, and some SHIT happen in the middle of the journey. And yet, some big major issues in the last days. But hey, it is the new year. I'm handling it OK for all of those things (i guess), at least i can make it through that rough time. So, i must be proud of myself for doing such a good turnover on those crumble.
Today, i have come to my turning point. I have new goals to reach, new challanges to bear, and new luck wishes from relatives and friends. I guess it was a good start and also a good sign for me to move on. That's why they called yesterday as a memory. I have come to the lowest point so far, and now it is my time to raise and reach for the sky.
One of my friend wrote this on our high school year book. "Aim your goal as high as the stars above, cause if you've missed, at least you got the stars". got it? it shoes that if you reach far and up high you will get biggest point, or at least..if you missed reach out the goals you won't get disapointed by reaching small goals. That's what i believe.
So, from now on, I'll not get crumbled easily with any obstacles. Yet it was the pathway to reach all of the goals. As long as I keep on praying:
the serenity to accept the things i cannot change;
the courage to change the things i can;
and yet...
the wisdom to know the difference.
So let's me conclude this note by saying:
It's a new day, It's a new start, and it's waiting for me, Here I Am!
_Corgito Ergo Sum_
Sabtu, 24 Januari 2009
Bantu aku menemukan caranya...
Di kala awan putih telah merubah warnanya menjadi pekat dan gelap.
Ketika suara kicauan burung berubah menjadi desiran angin malam.
Aku masih berada di sini berdiri di tepian pantai itu.
Berharap masih ada sebuah sinar nun jauh disana menanti diriku.
Aku jauh berada di seberang sini, di antara kerlip bintan nan cemerlang.
Berharap dan terus berharap bahwa suatu saat kan datang setitik sinar.
Bantu aku untuk terus berdiri, dan terus berharap bahwa sinar itu kan datang.
Apakah karena ku terlalu lama terbuai oleh terangnya cinta.
Hingga kini aku lupa apa itu kelap malam, apa itu dinginnya sepi.
Apakah karena ku terlalu sombong kepada diriMu.
Menganggap semuanya dapat terjadi atas kehendakku dan bukan kehendakMu.
Dimanakah aku berada saat ini, mengapa hanya ada sebuah kekelaman.
Bantu aku menemukan titik cahaya itu, agar dapat kembali kurasakan hangatnya cinta.
Benarkah setelah malam kelam ini esok kan menjemput diriku.
Atau aku akan terus berada dalam lembah kekelaman dan kesunyian malam.
Katakan kepadaku, katakan apa yang telah terjadi.
Kemanakah perginya sinar mentari yang selama ini aku rasakan dalam diriku.
Kemanakah setiap hangatnya cinta yang telah ku kumpulkan satu demi satu.
Apa salahku hingga aku harus menerima kenyataan pahit ini.
Tolong katakan kepadaku, bagaimana agar aku bisa menemukan cinta yang sama.
Sadarkan aku untuk terus berharap dan berharap bahwa cinta itu kan kembali.
Apakah aku harus kembali merangkak demi mengumpulkan serpihan yang sebelumnya.
Ataukah aku harus mengembangkan benih-benih yang baru dan berbeda.
Lalu untuk apa selama ini aku mengumpulkannya, apakah hanya untuk dirusakkan.
Ajari aku untuk bangkit kembali, bangkit untuk kembali menyadari bahwa kemarin adalah kenangan, dan bangkit untuk kembali mengejar masa depan.
Tetapi...apakah aku masih memiliki masa depan yang cerah.
Aku masih terseok-seok terkena pecahan harapan yang selama ini aku kumpulkan.
Aku masih terpaku pada kejayaan masa lalu yang sangat membutakan mata bathinku.
Apa yang harus aku lakukan...
Mengapa rasa pahit itu masih terus ada, walaupun aku mencoba untuk melupakannya.
Ada yang mengatakan bahwa jangan pernah dilupakan, karena itu adalah kenangan.
Lalu...apa yang harus kuperbuat, ada yang menyarankan untuk merelakan dan menerima.
Tetapi...apakah menurutmu mudah? apakah menurutmu aku belum melakukan itu?
Usaha apa lagi yang harus aku lakukan untuk mengembalikan rasa hangat itu?
Tolong katakan padaku caranya...
Apakah aku harus mati demi memulihkan kehangatan dalam hati.
Kalaupun memang itu yang harus kulakukan ... baiklah ... akan aku lakukan!
Sebuah kenangan!
Biarkan semua kenangan pahit yang pernah kualami berlalu dari padaku.
Ajarkan aku untuk terus menerus berusaha berpasrah dan berdamai.
Berdamai denganMU, berdamai dengan orang lain, dan berdamai dengan diri sendiri.
Aku bukanlah seorang malaikat yang mampu mempunyai damai seiap saat.
Sewaktu-waktu setan penggoda pun berhasil mengelabui diriku.
Dan aku membiarkan diriku terjerumus di dalam rayuan serta godaan.
Siapakah aku hingga mampu terus menjadi anakMU yang terkasih.
Hari ini pikiran itu muncul kembali, ketika semua kenangan pahit itu terjadi.
Aku mampu mengingat bahkan hingga detil yang terkecil sekalipun.
Aku ingat dimana saat itu aku baru saja menemukan seorang teman,
yang ternyata memberikan sebuah kenyataan pahit, teramat pahit.
Kalau seandainya waktu itu aku boleh memilih, aku ingin segera meninggalkan dunia ini.
Melupakan semua kenangan masa lalu yang teramat pahit.
Ternyata membangun kenangan indah, akan begitu mudahnya terhancurkan dengan sebuah kenyataan pahit.
Semua impian dan angan-angan kembali menjadi butiran debu di udara.
Malam itu, aku dipaksa untuk menelan sebuah pil pahit yang kerap aku lupakan.
Aku pernah memiliki firasat itu jauh sebelum hari itu terjadi.
Tapi entah mengapa firasat itu harus kuabaikan begitu saja.
Dan baru lama kemudian pil pahit itu menghampiriku.
Aku tak pernah menyangka dan tak kan menyangka.
Seseorang yang sudah kupercaya, kuberikan kepercayaan yang selama ini kusimpan.
Seseorang yang kepadanya kuberikan rasa cintaku dan rasa sayangku utuh.
Seseorang yang seharusnya kepadanya aku berbagai dan bercerita.
Seseorang yang akan menjadi teman dalam suka dan duka, senang dan susah, apapun itu.
Dia juga yang menghancurkan semua kepercayaan, mimpi, dan harapanku padanya.
Dia juga yang memberikan pil yang sangat teramat pahit untuk kutelan.
Dia juga yang kemudian menjadi sebuah alasan mengapa rasa cinta itu pernah muncul.
Dia juga yang membuatku menyesal tidak menuruti firasat hati kecilku saat itu.
Aku terlalu percaya padanya, melebihi hati kecilku.
Aku telah rela berkorban segalanya demi mempertahankan hubungan itu.
Segalanya dibangun bersama atas dasar mimpi dan kepercayaan.
Selama bertahun-tahun, sedikit demi sedikit memupuk semua asa dan usaha.
Tapi, apakah yang kau berikan kepadaku?
Pil pahit ini bahkan terlalu pahit bagiku,
Kepada siapakah harus kubagi pil ini,
Karena aku memang lebih memilih mati daripada harus benar menelannya utuh.
Aku...
Jumat, 23 Januari 2009
Mengapa KAU mau menjadi manusia?
"Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu sedih," kata pria itu kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
" api saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau menjadi manusia. Itu adalah hal yang tidak masuk
akal bagi saya"
Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi menghadiri kebaktian tengah malam di gereja. Pria itu menolak untuk menemani mereka.
"Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.
"Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan menunggumu sampai pulang."
Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai turun. Ia melihat keluar jendela dan melihat butiran-butiran salju itu berjatuhan. Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan mulai membaca surat kabar. Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara ketukan. Bunyi itu terulang tiga kali. Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola salju ke arah jendela rumahnya. Ketika ia pergi ke pintu masuk
untuk mengeceknya, ia menemukan sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju yang dingin. Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka menabrak kaca jendela ketika hendak mencari tempat berteduh.
Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu kedinginan di sini, pikir pria itu. Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka? Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni anak-anaknya. Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung yang hangat. Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi ke kandang kuda tersebut. Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan lampunya. Tapi burung-burung itu tidak masuk ke dalam. Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya. Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil remah-remah roti dan menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah kandang. Tapi ia sungguh terkejut. Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi dan terus melompat-lompat kedinginan di atas salju.
Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing menggiring domba, tapi justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari, malah menjauhi kandang yang hangat itu.
"Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh dan menakutkan," kata pria itu pada dirinya sendiri,
"Dan saya tidak dapat memikirkan cara lain untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai saya. Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama beberapa menit, mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang aman."
Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi. Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu, mendengarkan bunyi lonceng itu menyambut Natal yang indah.
Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata, "Sekarang saya mengerti,"
bisiknya dengan terisak. "Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi manusia."
Saudaraku, sering kita mengalami kejenuhan untuk pergi ke gereja dan merasa tak ada gunanya, semoga cerita di atas ini bisa lebih meneguhkan kita akan pentingnya ke gereja.
Jumat, 16 Januari 2009
Pahit!
Benarkah aku maish belum bisa memaafkan.
Karena terlalu pahit bagiku.
Meski harus berulang kali kukatakan dalam diri bahwa biarkan berlalu.
Dimana harus kucari rasa maaf itu.
Karena setiap kali terbayang, selalu rasa sesak itu muncul.
Butuh waktu lama untuk dapat kembali menenangkan diri ini.
Cukup lama untuk bisa merasionalisasikan rasa pahit itu.
Atau mungkin aku saja yang belum memaafkan diriku.
Karena telah membiarkan ada kejadian itu.
Atau memang aku belum memaafkannya.
Karena telah melakukan hal itu.
Memaafkan mungkin mudah bagi sebagian orang.
Akan tetapi melupakannya merupakan bagian yang tersulit.
Lalu, bagaimana mungkin bisa disebut memaafkan.
Jika seandainya melupakan kejadian itu pun belum terjadi.
Manakah yang harus didahulukan.
Apakah memaafkan dulu lalu melupakan.
Atau melupakan dulu baru bisa memaafkan.
bagiku keduanya masih dalam tahap angan-angan.
seberapa keraspun aku mencoba.
Apakah yang bisa kulakukan untuk melupakan, dan kemudian memaafkan.
Apakah aku harus mengalami kerusakan otak di bagian itu.
Sehingga membuatku lupa akan semua kejadian pahit.
Dan akhirnya dapat memulai lagi lembaran baru dan menuliskan hal indah.
Tetapi...
kata orang pengalaman adalah guru yang paling berharga.
Dan sesuatu kejadian pahit atau apapun itu yang tidak membunuhmu,
hanya akan memberikan kekuatan bagimu di masa yang akan datang.
Lalu, kalau aku merusak semua memori itu,
akankah aku menjadi seperti diriku yang sekarang.
Bisakah aku menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Atau malah berubah menjadi bajingan.
itulah mengapa akhirnya banyak orang juga mengusulkan,
hiduplah hari ini dan saat ini,
raihlah apa yang bisa kau raih hari ini,
jangan kau terpaku pada kenangan masa lalu,
atau terlalu berharap pada keadaan yang akan datang nantinya.
aku masih ingin belajar.
belajar untuk hidup hari ini dan hanya hari ini.
belajar meninggalkan masa lalu.
belajar untuk tidak berkhayal tentang masa yang akan datang.
aku ingin meraih hari ini.
untuk memperbaiki kesalahan di masa lalu.
dan untuk bersiap menghadapi kejadian yang akan datang.
Semoga...
CARPE DIEM!